BONE, SAPARAKYAT.COM-Suasana malam di Kantor Kelurahan Jeppe’e, Jalan Jambu, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis 5 Februari 2026, terasa berbeda.
Ruangan yang biasanya menjadi tempat urusan administrasi, malam itu berubah menjadi saksi bisu runtuhnya benteng emosi seorang ibu muda bernama Nita Tri Anjani (22).
Nita, perempuan kelahiran Kolaka, tahun 2004, berasal dari Desa Wolulu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Tangisnya pecah, suaranya bergetar, seolah menumpahkan luka yang lama ia pendam sendirian.
Mediasi tersebut digelar oleh pihak kelurahan dan dihadiri langsung Lurah Jeppe’e, Rosmidah, S.Sos, bersama Kasi Trantib A. Sudirman K., S.Sos, Bhabinkamtibmas Kelurahan Jeppe’e Bripka Muh. Tachdir, Babinsa Serka Haruna, serta Kepala Lingkungan Lallongka Riattang, Supardi, didampingi sejumlah staf kelurahan.
Mediasi membahas pertikaian rumah tangga yang nyaris menghancurkan sebuah keluarga kecil.
Nita, ibu satu anak, sempat minggat dari rumah pada malam pergantian tahun 2025, meninggalkan suami dan anak perempuannya yang masih berusia lima tahun. Dengan hati remuk dan keberanian yang tersisa, ia nekat pergi seorang diri menyeberangi lautan dari Sulawesi Tenggara ke Sulawesi Selatan menggunakan kapal feri.
Sang suami, Saripuddin, kelahiran Desa Wolulu, tahun 1998, yang selama ini berdomisili di lokasi tersebut, mengaku tak pernah menyangka kepergian istrinya akan sejauh itu. Ia menganggap pertengkaran yang terjadi pada sore hari sebelum malam kepergian Nita hanyalah cekcok biasa dalam rumah tangga.
Di hadapan para petugas dan perangkat kelurahan, Nita akhirnya membuka semua isi hatinya. Ia mengaku kerap menjadi sasaran caci maki suami, bahkan untuk persoalan sepele. Setiap kali emosi memuncak, sang suami disebut berulang kali menyuruhnya pergi meninggalkan rumah.
“Karena terlalu sering disuruh pergi, akhirnya saya benar-benar pergi,” ucapnya lirih sambil terisak.
Sementara itu, Saripuddin tak mampu menahan rasa bersalah. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengakui semua kesalahannya. Demi menemukan istrinya, ia mengaku telah berkeliling mencari, bahkan sempat ke Kabupaten Sinjai, sebelum akhirnya mendapat kabar bahwa Nita berada di Kabupaten Bone, Kelurahan Jeppe’e.
Di momen paling menggetarkan, sang suami bersujud di hadapan Nita, memohon maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya.
Tangis Nita yang sejak awal mediasi tak pernah berhenti, perlahan berubah. Dari air mata luka, menjadi air mata harapan.
Nasihat demi nasihat disampaikan oleh Bripka Muh. Tachdir selaku Bhabinkamtibmas, Serka Haruna sebagai Babinsa, serta Supardi selaku Kepala Lingkungan Lallongka Riattang.
Mereka mengingatkan bahwa pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal yang tak terelakkan, namun meninggalkan rumah, apalagi dalam waktu lama, bukanlah jalan keluar.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Jeppe’e, Bripka Muh. Tachdir, dalam mediasi tersebut menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dalam rumah tangga.
“Pertengkaran dalam rumah tangga itu hal yang wajar, tapi jangan sampai emosi membuat salah satu pihak pergi meninggalkan rumah, apalagi sampai jauh dan dalam waktu lama. Masalah sebesar apa pun seharusnya dibicarakan baik-baik, karena yang paling terdampak adalah anak,” ujarnya dengan nada haru.
Saat Nita menyinggung anak perempuannya, buah hati yang ia tinggalkan dengan sejuta rasa bersalah, raut kesedihan tak hanya terpancar dari wajahnya. Para hadirin pun tampak menunduk, beberapa nyaris ikut menitikkan air mata.
Selama berada di Kabupaten Bone, Nita diketahui ngekos di Jalan Manggis, Kota Watampone, dan bekerja di sebuah warung di Jalan Langsat demi bertahan hidup jauh dari keluarga.
Mediasi malam itu akhirnya berbuah manis. Pelukan hangat menyatukan kembali pasangan yang sempat tercerai oleh ego dan amarah.
Usai mediasi, keluarga kecil ini berencana kembali ke kampung halaman mereka di Bombana, Sulawesi Tenggara, keesokan harinya, membawa luka lama, namun juga harapan baru.
Malam itu, di Kelurahan Jeppe’e, semua yang hadir belajar satu hal:
bahwa kata-kata bisa melukai lebih dalam dari pukulan,
dan air mata seorang ibu adalah jeritan paling sunyi yang tak boleh diabaikan.





