BONE, SAPARAKYAT.COM-Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Bone terus digencarkan melalui pendekatan edukasi dan pemeriksaan langsung kepada masyarakat. Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa bakti sosial bertajuk Deteksi Stunting dan Skrining Tumbuh Kembang Anak, Sabtu pagi, 18 April 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Petta Ponggawae, Jalan Merdeka, Kelurahan Pompanua, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Program ini menyasar tiga wilayah, yakni Kecamatan Ajangale, Kecamatan Sibulue, dan Kecamatan Tanete Riattang, yang dibagi dalam tiga regu pelayanan.
Sebanyak 22 dokter dilibatkan dalam kegiatan ini. Tim medis melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari pengukuran tinggi dan berat badan anak, penilaian status gizi, hingga konsultasi langsung dengan orang tua. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pola asuh, pentingnya asupan gizi seimbang, serta perlunya pemeriksaan kesehatan secara rutin sejak dini.

Turut hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bone para kepala desa dan Lurah se-Kecamatan Ajangale, serta kepala KUA Ajangale sebagai bentuk dukungan penanganan stunting
Camat Ajangale, A. Tenri Lewa, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak bisa dipandang sederhana.
“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan sosial, hingga produktivitas di masa depan,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan ini bukan sekedar seremoni, melainkan langkah nyata dalam menyelamatkan generasi.
“Deteksi dini adalah pintu pertama untuk memastikan tumbuh kembang anak sesuai usia, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat, “tambahnya
Di wilayah Ajangale sendiri, kegiatan ini menargetkan 154 anak yang terindikasi stunting. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 anak telah menjalani pemeriksaan pada hari pelaksanaan. Angka ini menjadi perhatian serius, mengingat Ajangale tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus terbanyak di Kabupaten Bone.

“Ini tentu menjadi tantangan bagi kami. Namun dengan adanya kegiatan seperti ini, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” ungkapnya.
Meski tergolong baru menjabat setelah dilantik pada akhir tahun 2025, A. Tenri Lewa menunjukkan keseriusannya dalam menangani persoalan stunting di wilayahnya. Ia menegaskan komitmen kuat untuk terus menekan angka kasus melalui kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Kami berkomitmen untuk mengurangi bahkan meniadakan stunting di wilayah Ajangale. Ini adalah tanggung jawab bersama, dan kami akan terus mendorong kolaborasi semua pihak agar anak-anak kita tumbuh sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat pun terlihat tinggi. Orang tua datang membawa anak-anak mereka untuk diperiksa sekaligus berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan dan tumbuh kembang buah hati mereka. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam mewujudkan generasi Bone yang lebih sehat di masa mendatang.





