BONE, SAPARAKYAT.COM-Senin malam, 6 April 2026, Lapangan Merdeka di Jalan Petta Ponggawae Watampone menjelma menjadi lautan cahaya dan sorak sorai. Ribuan masyarakat tumpah ruah, larut dalam suasana hangat penuh kebersamaan untuk merayakan Hari Jadi Bone (HJB) ke-696.
Panggung megah yang berkilau dengan gemerlap lampu warna-warni menjadi pusat perhatian. Malam itu dipenuhi energi dan antusiasme warga yang tak surut sejak awal acara.
Penampilan Fildan Rahayu sukses menjadi salah satu magnet utama. Ia merupakan pemenang D’Academy Musim ke-4 (2017), penyanyi dangdut asal Baubau, Sulawesi Tenggara, yang dikenal dengan karakter vokalnya yang khas.
Tak hanya piawai bernyanyi, Fildan juga mahir memainkan gitar serta membawakan lagu-lagu India yang memikat. Prestasinya semakin lengkap setelah ia juga menjuarai D’Academy Asia 3 pada tahun yang sama.
Penampilannya malam itu pun disambut meriah dengan tepuk tangan dan nyanyian bersama dari masyarakat.
Tak kalah memukau, Ungu Band yang digawangi vokalis Pasha tampil penuh semangat membawakan deretan lagu hits mereka. Grup musik yang terbentuk pada 8 Juli 1996-yang awalnya bernama Glasses-ini telah menjelma menjadi salah satu ikon musik pop Indonesia.
Formasi Pasha, Enda, Makki, Onci, dan Rowman berhasil menghidupkan suasana, membuat ribuan penonton larut dalam euforia. Kini, selain dikenal sebagai musisi, Pasha juga mengemban amanah sebagai anggota DPR RI.
Di tengah euforia tersebut, Bupati Bone, Andi. Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., turut hadir menyapa masyarakat. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh warga untuk menikmati perayaan dengan penuh kegembiraan namun tetap menjaga ketertiban.
“Perayaan ini bukan hanya tentang hiburan, tapi tentang memperkuat ikatan kita sebagai masyarakat Bone. Mari kita rayakan malam ini dengan gembira, namun tetap menjaga ketertiban, agar kenangan indah ini bisa kita simpan bersama,” ujar Bupati.
Momen haru sekaligus membanggakan terjadi ketika Bupati ikut melantunkan lagu daerah Bugis. Suasana seketika menjadi lebih hangat-anak-anak tersenyum riang, para orang tua mengangguk menikmati alunan musik, dan seluruh hadirin seolah terikat dalam satu rasa cinta terhadap budaya.
HJB ke-696 bukan sekadar perayaan seremonial. Ia menjelma menjadi ruang kebersamaan, tempat musik menyatukan perbedaan, tawa menyebar tanpa batas, dan kenangan indah terukir di hati setiap warga. Malam itu, Bone bukan hanya bersuka cita, tetapi juga merawat harmoni yang akan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya.





