BONE, SAPARAKYAT.COM-Pagi itu, Rabu 29 April 2026, sinar matahari belum terlalu terik saat seorang lelaki lanjut usia duduk di balik lapak sederhana di Jalan Ahmad Yani, Watampone, tepatnya di samping Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Dengan tatapan tenang dan tangan yang sesekali merapikan dagangannya, Dg. Bengnga menyambut hari seperti biasa, menunggu rezeki datang dari langkah-langkah orang yang melintas.
Saat ditemui awak media, pria berusia 63 tahun itu tampak ramah, meski gurat usia jelas tergambar di wajahnya. Di hadapannya tersusun buah salak yang didatangkan dari Kabupaten Enrekang, buah yang menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya sebagai penjual.
Akhir-akhir ini, harga salak mengalami kenaikan. Jika dulu satu karung hanya sekitar Rp300 ribu, kini mencapai Rp400 ribu. Dalam satu karung berisi sekitar 38 kilogram, namun hanya kurang lebih 35 kilogram yang layak jual. Selebihnya, perlahan harus ia relakan karena rusak.
Dengan harga jual sekitar Rp15 ribu per kilogram, Dg. Bengnga mengaku dalam sehari rata-rata hanya mampu menjual sekitar 10 kilogram. Tak banyak, namun cukup untuk membuatnya tetap bertahan.
“Daripada tinggal menganggur, biar sedikit untung asal berkah,” ucapnya lirih, seolah menyimpan makna yang dalam dari setiap kata yang ia tuturkan.
Tak semua hari berjalan baik. Ada kalanya dagangan tak habis, bahkan sebagian harus dibuang karena busuk. Setiap buah yang terbuang bukan sekedar kerugian, tetapi juga bagian dari perjuangan yang tak terlihat oleh banyak orang.
Sejak usia 20-an tahun, Dg. Bengnga telah menapaki jalan sebagai penjual buah. Hidupnya semakin diuji saat kebakaran Pasar Sentral Watampone di Jalan Agus Salim memaksanya berpindah-pindah tempat. Hingga akhirnya, selama tujuh tahun terakhir, ia bertahan di pinggir Jalan Ahmad Yani, menjadikan trotoar sebagai saksi ketekunannya.
Di balik kesederhanaan lapaknya, tersimpan kisah tentang keteguhan dan keikhlasan. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap memilih bekerja, bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menjaga harga diri.
Bagi masyarakat Bone maupun dari luar daerah yang ingin membeli buah salak segar, Dg. Bengnga dengan setia menunggu di lapaknya di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Rumah Makan Latanete. Setiap pembelian bukan hanya tentang buah, tetapi juga tentang menghargai kerja keras yang tak pernah padam.
Di antara tumpukan salak itu, ada harapan yang terus ia rawat. Harapan sederhana, agar hari esok tetap memberi kesempatan, dan rezeki yang datang selalu membawa berkah.





