BONE, SAPARAKYAT.COM – Tak ada yang lebih menyakitkan dari kalah ketika harapan sudah di depan mata. Itulah luka yang kini dirasakan seluruh skuad Ajangale, pemain, manajer, ofisial, hingga suporter, setelah mimpi mereka hancur di detik-detik terakhir laga.
Di Stadion Lapatau, Ahad 10 Mei siang, Ajangale harus menerima kenyataan pahit usai takluk 1-2 dari Kajuara pada babak 16 besar BerAmal Cup 2026. Kekalahan ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan luka yang terasa begitu dalam.
Pertandingan berjalan penuh drama. Ajangale sempat tertinggal lebih dulu di babak pertama akibat blunder kiper mereka, sebuah momen yang seakan menghantui sepanjang laga. Namun, semangat pantang menyerah tak pernah padam.
Memasuki babak kedua, Ajangale bangkit. Serangan demi serangan dibangun dengan penuh keyakinan. Hingga akhirnya, harapan itu datang. Padel mencetak gol penyeimbang lewat umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan. Skor 1-1. Stadion bergemuruh. Asa kembali menyala.
Waktu terus berjalan. Detik demi detik terasa begitu lambat. Di pinggir lapangan, para ofisial Ajangale sudah saling memberi isyarat, para algojo penalti telah disiapkan. Semua percaya, laga ini akan ditentukan dari titik putih.
Namun, sepak bola selalu punya cara paling kejam untuk mengakhiri cerita.
Saat semua mata tertuju pada peluit panjang, justru petaka datang. Di penghujung laga, sebuah gol tendangan jarak jauh yang tak disangka oleh kiper Ajangale meluncur deras dan bersarang di gawang. Gol dari Kajuara itu menghancurkan segalanya, harapan, rencana, dan mimpi yang sudah begitu dekat.
Sunyi seketika menyelimuti stadion. Sorak berubah menjadi isak. Beberapa pemain Ajangale langsung terjatuh di lapangan, tak kuasa menahan tangis. Ada yang menutup wajahnya, ada yang hanya terpaku menatap kosong, seolah tak percaya ini benar-benar terjadi.
Di tribun, suporter yang sejak awal setia mendukung pun larut dalam duka. Mata berkaca-kaca raut wajah pun tampak murung . Perjalanan yang penuh perjuangan harus berakhir dengan cara yang paling menyakitkan.
Ini bukan sekadar kekalahan. Ini adalah kisah tentang harapan yang direnggut di ujung waktu. Tentang mimpi yang sirna hanya dalam hitungan detik.
Dan bagi Ajangale, luka ini mungkin akan dikenang lebih lama dari sekedar satu pertandingan.





