MAROS, Saparakyat.com— Pemandangan pegunungan yang membentang di kawasan Tompo Ladang, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bukan hanya menjadi tempat persinggahan bagi para pengendara. Di lokasi tersebut, sejumlah pedagang juga menggantungkan harapan dari ramainya kendaraan yang melintas.
Salah satunya Gacor, pedagang asal Kabupaten Takalar yang tinggal di kawasan Kappang. Setiap hari, ia menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju Tompo Ladang untuk menjajakan dagangannya. Aktivitas itu dilakoninya sejak pagi hingga sekitar pukul 21.00 wita.
Selasa sore, 6 Oktober 2026, suasana di sekitar jembatan layang Tompo Ladang terlihat cukup ramai. Sedikitnya terdapat lima pedagang yang membuka lapak di kawasan tersebut. Mereka menjajakan beragam makanan, mulai dari bakso, mie siram hingga aneka kue tradisional.
Menurut Gacor, hasil berjualan di lokasi tersebut cukup menjanjikan. Dalam sehari, pendapatannya dapat mencapai sekitar Rp800 ribu. Bahkan saat akhir pekan atau hari libur, omzetnya bisa menembus lebih dari Rp1 juta per hari.
“Kalau hari biasa bisa sekitar Rp800 ribu. Kalau Sabtu dan Minggu atau hari libur, biasanya lebih ramai dan omzet bisa lebih dari Rp1 juta,” ujar Gacor.
Kawasan Tompo Ladang memang memiliki daya tarik tersendiri. Para pengunjung dapat menikmati hamparan pegunungan sekaligus menyaksikan jembatan layang yang membentang di kawasan tersebut.
Iring-iringan kendaraan, mulai dari truk, minibus hingga sepeda motor, turut menambah suasana. Sebagian besar pengunjung yang singgah merupakan pengendara yang hendak menuju Maros dan Makassar.
Mereka biasanya berhenti sejenak untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan, sekaligus menikmati makanan dan panorama alam yang tersaji di kawasan tersebut.
Di tengah perjalanan yang panjang, Tompo Ladang seolah menjadi titik jeda—tempat para pengendara melepas lelah, sementara bagi para pedagang, setiap kendaraan yang berhenti membawa harapan baru untuk menyambung penghasilan.





