BONE, Saparakyat.com — Keputusan perangkat pertandingan kembali menjadi sorotan dalam kompetisi sepak bola di Kabupaten Bone. Kali ini, Manager Karang Taruna Walasuji Desa Lebbae, Supardi, menyatakan keberatan atas kinerja asisten wasit atau hakim garis bernama Hamzah saat memimpin laga kontra Twins FC di Lapangan Sepak Bola Andi Syarifuddin Mappayompa, Kelurahan Pompanua Riattang, Kecamatan Ajangale, Ahad 11 Oktober 2026.
Keberatan tersebut akan dituangkan dalam laporan resmi kepada Ketua PSSI Kabupaten Bone. Supardi meminta agar sejumlah keputusan yang dinilai janggal selama pertandingan diperiksa secara objektif, termasuk kemungkinan adanya persoalan profesionalisme dan potensi benturan kepentingan dalam penugasan perangkat pertandingan.
Menurut Supardi, terdapat beberapa insiden yang memicu ketidakpuasan pihaknya. Di antaranya, dugaan posisi offside yang tidak diikuti isyarat bendera, keputusan bola yang menurut pengamatannya seharusnya menjadi hak penjaga gawang tetapi justru berujung tendangan sudut, serta dugaan pelanggaran keras yang terjadi di dekat hakim garis tanpa adanya isyarat bendera.
Ia juga menyoroti insiden pelanggaran keras yang disebutnya terjadi sekitar lima meter di hadapan asisten wasit. Namun, peluit justru dibunyikan oleh wasit utama yang berada relatif lebih jauh dari lokasi kejadian.
Rangkaian peristiwa tersebut, menurut Supardi, menimbulkan pertanyaan mengenai ketepatan pengamatan dan pelaksanaan tugas perangkat pertandingan. Meski demikian, pihaknya meminta agar setiap dugaan itu diuji melalui pemeriksaan dan klarifikasi berdasarkan fakta yang tersedia.
Protes Sudah Disampaikan Sejak Menit Awal
Supardi menegaskan, keberatan yang disampaikannya bukan semata-mata reaksi setelah timnya menyelesaikan pertandingan. Ia mengaku telah mendatangi meja panitia sejak menit keempat, ketika insiden yang diduga offside terjadi.
Di meja panitia, menurut keterangannya, terdapat sejumlah panitia, petugas pengamanan dari unsur TNI dan Polri, serta seseorang bernama Fiki Warlang yang disebut sebagai wasit cadangan pertandingan.
Pada kesempatan tersebut, Supardi mengaku meminta agar asisten wasit yang bersangkutan diganti. Permintaan itu, menurutnya, disampaikan sebagai upaya menjaga kepercayaan tim terhadap netralitas perangkat pertandingan.
Namun, Supardi menuturkan bahwa Fiki merespons permintaan tersebut dengan mengatakan, “Di mana lagi mau ambil asisten wasit selain dia sekarang?”
Jawaban itu disebut membuat pihak Walasuji kecewa karena berharap keberatan peserta dapat ditanggapi melalui mekanisme yang jelas.
Supardi pun meminta agar kejadian di meja panitia turut diklarifikasi, termasuk mengenai kapasitas pihak yang memberikan respons dan keterangan orang-orang yang berada di lokasi saat protes disampaikan.
Dugaan Benturan Kepentingan Minta Diperiksa
Selain mempersoalkan keputusan di lapangan, pihak Walasuji turut menyoroti informasi mengenai hubungan keluarga antara asisten wasit Hamzah dan salah seorang pemain Twins FC.
Supardi menyebut, berdasarkan informasi yang diketahui pihaknya, adik kandung Hamzah ikut memperkuat Twins FC dalam pertandingan tersebut.
Informasi itu memunculkan pertanyaan dari pihak Walasuji mengenai potensi benturan kepentingan dalam penugasan perangkat pertandingan. Karena itu, Supardi meminta PSSI Kabupaten Bone menelusuri persoalan tersebut berdasarkan aturan perwasitan yang berlaku.
Meski demikian, hubungan keluarga antara seorang perangkat pertandingan dan pemain tidak dengan sendirinya membuktikan adanya keberpihakan atau pelanggaran. Penilaian terhadap persoalan tersebut tetap memerlukan pemeriksaan objektif, termasuk terhadap ketentuan penugasan dan fakta yang relevan.
Minta Evaluasi hingga Sanksi Jika Terbukti Melanggar
Melalui laporan keberatan yang sedang disiapkan, Supardi meminta Ketua PSSI Kabupaten Bone memeriksa kinerja asisten wasit Hamzah, meminta keterangan dari wasit utama dan panitia pelaksana, serta meninjau rekaman pertandingan apabila tersedia.
Ia juga memohon agar Hamzah tidak kembali ditugaskan dalam turnamen tersebut selama proses pemeriksaan, apabila langkah itu dinilai perlu oleh pihak berwenang untuk menjaga kepercayaan peserta dan memastikan proses evaluasi berjalan dengan baik.
Lebih jauh, Supardi meminta agar sanksi tegas dijatuhkan apabila pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran serius terhadap kode etik maupun standar profesionalisme perwasitan.
Menurutnya, bentuk sanksi hendaknya disesuaikan dengan tingkat pelanggaran dan ketentuan yang berlaku, termasuk kemungkinan skorsing hingga pencabutan lisensi apabila memenuhi dasar dan persyaratan yang ditetapkan.
Supardi menegaskan, langkah tersebut bukan bertujuan menjatuhkan individu tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sportivitas dan integritas kompetisi sepak bola di Kabupaten Bone.
Baginya, kepercayaan peserta merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas sebuah turnamen. Karena itu, setiap keberatan yang disertai alasan dan bukti patut ditindaklanjuti melalui mekanisme yang transparan.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media telah berupaya menghubungi pihak yang disebut sebagai Exco wasit Kabupaten Bone melalui sambungan telepon. Namun, panggilan tersebut belum diangkat. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp juga belum memperoleh balasan.
Awak media turut menghubungi Ketua PSSI Kabupaten Bone melalui pesan WhatsApp. Hingga berita ini diterbitkan, pesan tersebut masih menunjukkan satu tanda centang sehingga belum dapat dipastikan apakah telah diterima oleh yang bersangkutan.
Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi asisten wasit Hamzah, pihak Exco PSSI Kabupaten Bone, Ketua PSSI Kabupaten Bone, serta pihak-pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Keterangan dari seluruh pihak diperlukan untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai jalannya pertandingan dan menjernihkan keberatan yang disampaikan Manager Karang Taruna Walasuji Desa Lebbae.
Pada akhirnya, persoalan ini diharapkan tidak berhenti sebagai polemik antartim, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan yang objektif, profesional, dan transparan. Sebab, di lapangan sepak bola, bukan hanya hasil akhir yang dipertaruhkan, melainkan juga kepercayaan terhadap keadilan permainan dan integritas kompetisi.





