Setiap Baroncong yang Dipanggang Salma Menyimpan Rindu kepada Orang Tua yang Telah Tiada

BONE, SAPARAKYAT.COM – Deretan kedai kopi modern, minuman kekinian, hingga aneka jajanan cepat saji kini semakin menjamur di berbagai sudut kota bahkan sampai ke pelosok desa. Namun di tengah derasnya arus modernisasi kuliner itu, seorang gadis muda di Kabupaten Bone memilih tetap setia menjaga cita rasa warisan leluhurnya.

Dialah Salma (19), warga Lingkungan Labemba, Kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone. Di usianya yang masih belia, ia melanjutkan usaha yang dahulu dirintis oleh orang tuanya yang kini telah berpulang. Dengan penuh ketekunan, Salma mempertahankan kuliner khas Bugis yang mulai langka dijumpai, yakni baroncong Bugis dan es baroncong.

Setiap hari, bersama saudaranya, Salma menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju kawasan Tugu Desa Lamuru Kung, Kecamatan Tellu Siattinge. Di tempat sederhana itulah ia menggantungkan harapan, menawarkan kuliner tradisional demi mengumpulkan lembar demi lembar rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu daya tarik dagangannya adalah es baroncong yang memiliki warna merah muda (pink) khas. Warna lembut yang mencolok itu menjadi identitas tersendiri, mengundang rasa penasaran para pembeli di tengah dominasi minuman modern. Meski tampil sederhana dalam gelas plastik, kesegarannya berpadu dengan cita rasa tradisional yang diwariskan turun-temurun, menghadirkan kenangan akan kuliner Bugis yang perlahan mulai menghilang.

Baca Juga:  Camat Ajangale Dorong Generasi Muda Berprestasi Usai SMPN 1 Ajangale Raih Deretan Penghargaan di MIMF 2026

Dengan pendidikan terakhir Sekolah Dasar, Salma tak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Baginya, menjaga resep peninggalan orang tua adalah bentuk bakti sekaligus ikhtiar mempertahankan salah satu warisan kuliner Bugis agar tetap dikenal generasi muda.

Saat ditemui pada Ahad 5 Juli 2026, Salma mengungkapkan bahwa hasil yang diperolehnya tidak selalu sebanding dengan perjuangan yang dijalani setiap hari. Modal yang harus dikeluarkan untuk membuat baroncong dan es baroncong mencapai sekitar Rp300 ribu.

“Modal jualan saya sekitar Rp300 ribu setiap hari. Kalau semua dagangan habis terjual, saya bisa mendapat keuntungan sekitar Rp200 ribu, tetapi itu sangat jarang terjadi. Rata-rata keuntungan bersih yang saya bawa pulang hanya sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Saat hari Pasar Lamuru, alhamdulillah pembeli biasanya lebih ramai sehingga keuntungan bisa melebihi Rp100 ribu, “ucapnya.

Baca Juga:  Himbau KPU Bone, Bawaslu Bone Tegaskan Tak Boleh Ada Yang Hilang Hak Pilihnya

“Namun di balik itu, kerugian juga selalu mengintai. Kalau baroncong atau es baroncong tidak habis terjual, biasanya saya bagikan kepada orang lain. Kalau sudah tidak layak dikonsumsi lagi, terpaksa harus dibuang karena saya tidak ingin menjual makanan atau minuman yang kualitasnya sudah tidak baik keesokan harinya,” tutur Salma.

Bagi Salma, setiap dagangan yang tersisa bukan sekadar makanan yang tak terjual, melainkan modal yang ikut hilang bersama harapan mendapatkan keuntungan. Meski demikian, ia tetap memilih bertahan. Baginya, kepercayaan pelanggan jauh lebih berharga daripada menjual makanan yang kualitasnya sudah tidak layak.

Di balik setiap baroncong yang dipanggang dan setiap gelas es baroncong berwarna merah muda yang disajikan, tersimpan kisah tentang kerinduan kepada orang tua, keteguhan menjaga warisan budaya, dan perjuangan seorang anak muda yang tak pernah lelah mencari nafkah dengan cara yang sederhana.

Baca Juga:  Tak Terima Atas Penunjukkan Langsung, Warga Carawali Adakan Pemilihan Langsung KALING

Kisah Salma menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak selalu dijaga oleh mereka yang memiliki modal besar. Terkadang, ia bertahan berkat tangan seorang gadis muda yang setiap hari menempuh perjalanan jauh demi memastikan aroma baroncong Bugis tetap mengepul dan cita rasanya terus hidup di tengah gempuran kuliner modern.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berubah, gerobak kecil milik Salma bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah ruang tempat kenangan, perjuangan, dan warisan orang tua terus hidup. Selama bara tungku itu masih menyala, selama tangan Salma masih setia memanggang baroncong, harapan akan lestarinya kuliner khas Bugis akan tetap ada.

Pos terkait