BONE, Saparakyat.com — Malam di Dusun Tanrung seakan enggan menjadi sunyi.
Selepas salat Isya, Jumat malam, 4 September 2026, langkah kaki warga mengalir menuju Masjid Al-Qadar, jalan poros Bone-Soppeng, Dusun Tanrung, Desa Lebbae, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone.
Dari kejauhan, suasana telah terasa berbeda. Cahaya lampu berpadu dengan riuh percakapan warga, menghadirkan kehangatamalam tengah malam yang penuh keberkahan.
Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 H/2026 M itu bukan sekadar pertemuan di rumah ibadah. Ia menjelma menjadi ruang tempat silaturahmi tumbuh, doa-doa dilangitkan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW kembali disemai.
Di antara kerumunan jamaah, male tampil bak bunga-bunga yang sedang mekar. Baskom, panci hingga rak disulap menjadi wadah yang penuh warna. Kembang-kembang warna-warni menghiasi setiap male, seolah ikut menyampaikan pesan kegembiraan atas datangnya bulan penuh kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Tahun ini, kemeriahan terasa lebih kuat. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa berdesakan memenuhi Masjid Al-Qadar. Ketika ruang masjid mulai tak mampu menampung seluruh jamaah, panitia membuka baruga di depan masjid.
Seakan malam itu, seluruh ruang di Tanrung ingin menjadi saksi sebuah perayaan yang dipenuhi kebersamaan.
Hadir dalam kesempatan tersebut Camat Ajangale Andi Tenri Lewa, S.Sos., M.Si., Plt. Kepala Desa Lebbae Andi Suhartono, Sekretaris Desa Lebbae Andi Hermawati S. E, bersama jajaran perangkat desa, serta Kapolsek Ajangale IPTU Muhammad Adi, S.H., Babinsa Desa Lebbae, Sertu Ridwan dan pimpinan pondok pesantren Auladul As’adiyah Ajangmatekko.
Kehadiran mereka menyatu dengan masyarakat. Tak ada jarak yang terasa kaku. Pemerintah, aparat keamanan dan warga duduk dalam suasana yang sama, menikmati malam Maulid dengan penuh kekeluargaan.
Camat Ajangale Andi Tenri Lewa, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasinya terhadap semangat masyarakat Desa Lebbae.
“Kami sangat mengapresiasi panitia dan majelis taklim masjid Al-Qadar Tanrung serta antusiasme masyarakat Desa Lebbae yang begitu luar biasa dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan seperti ini bukan hanya sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, semangat tersebut harus terus dirawat agar tradisi keagamaan dan kebersamaan masyarakat tetap tumbuh dari generasi ke generasi.
“Mudah-mudahan melalui peringatan Maulid ini, kita semua dapat mengambil hikmah dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Malam semakin larut ketika Ustaz Murdani, S.Th.I., Gr., yang juga merupakan Pembina Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung, menyampaikan tausiah di hadapan jamaah.
Suara penceramah mengalun di antara jamaah yang duduk bersisian. Pesan tentang keteladanan Rasulullah SAW menjadi pengingat bahwa Maulid bukan hanya tentang menghias male dan memeriahkan sebuah acara, tetapi tentang bagaimana kecintaan kepada Nabi diterjemahkan menjadi akhlak dalam kehidupan.
Di luar masjid, warna-warni male masih menjadi pemandangan yang mencuri perhatian.
Baskom, panci dan rak yang dihiasi bunga seolah menjadi bahasa sederhana masyarakat Tanrung dalam mengungkapkan rasa cinta dan syukur.
Malam itu, Tanrung tidak hanya diterangi cahaya lampu. Ia diterangi kebersamaan—oleh langkah warga yang datang, oleh doa yang dipanjatkan, dan oleh cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.





