BONE, SAPARAKYAT.COM – Di bawah cahaya malam yang menyelimuti Lapangan Dulung’na Ajangale, sebuah panggung menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan keberanian, bakat, dan kecintaan terhadap seni.
Di antara para peserta, Umairah Dzaki Shafira, siswi SD Inpres 3/77 Telle, tampil dalam lomba kesenian kategori SD sederajat sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Dengan nomor urut 08, Umairah tampil di panggung Lapangan Dulung’na Ajangale, Jalan Poros Bone-Wajo, Kelurahan Pompanua, Kecamatan Ajangale, pada Rabu malam, 12 Agustus 2026.
Dalam penampilannya, Umairah membawakan dua lagu. Lagu wajib nasional “Tanah Airku” mengalun membawa semangat kecintaan kepada negeri, kemudian disusul lagu daerah Bugis “Tania Peddi Cedde’” yang menghadirkan warna budaya tanah Bugis.
Penampilannya semakin menarik dengan busana bernuansa biru tua yang dihiasi ornamen emas, dipadukan dengan kain bernuansa emas. Rambutnya ditata rapi dengan hiasan bunga berwarna putih dan kuning, menciptakan perpaduan keanggunan dan nuansa budaya.
Namun, di balik sorotan lampu panggung dan perhatian penonton, ada makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar juara.
Syahraeni, S.Pd., guru sekaligus orang tua Umairah, memandang pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses tumbuh seorang anak. Baginya, panggung perlombaan adalah tempat untuk menempa keberanian dan membangun mental.
“Sebagai orang tua, tentu kita semua mendoakan anak mendapatkan yang terbaik dan meraih juara. Tetapi, bagi kami, mengasah mental itu jauh lebih utama. Bagaimana anak berani tampil, percaya diri dan mampu menunjukkan kemampuannya di depan orang banyak, itu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ucap Syahraeni.
Kata-kata itu seolah menjadi pesan bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk piala. Ada keberanian yang tumbuh ketika seorang anak mampu berdiri di hadapan banyak orang. Ada kepercayaan diri yang terbentuk ketika suara pertama kali dilepaskan ke ruang publik.
Syahraeni berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Umairah untuk terus mengembangkan bakat sekaligus kepercayaan dirinya.
“Menang atau kalah adalah bagian dari proses. Yang paling penting, anak mendapatkan pengalaman, berani mencoba dan tidak takut tampil. Semoga dari kegiatan seperti ini, Umairah semakin percaya diri dan terus mengembangkan bakatnya,” tambahnya.
Sementara itu, lagu “Tania Peddi Cedde’” yang dibawakan Umairah bukan sekadar rangkaian nada. Dalam bahasa Bugis, istilah tersebut memiliki makna “bukan luka atau sakit yang sedikit”, yang menggambarkan rasa sakit atau luka yang sangat besar dan mendalam.
Di tangan generasi muda seperti Umairah, lagu daerah itu kembali menemukan ruang. Ia bukan hanya dinyanyikan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah generasi yang terus bergerak maju.
Perpaduan “Tanah Airku” dan “Tania Peddi Cedde’” menjadi simbol kecil tentang Indonesia: cinta kepada tanah air yang berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap akar budaya sendiri.
Lomba kesenian dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Ajangale akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, panggung Lapangan Dulung’na Ajangale menjadi tempat anak-anak belajar berdiri, belajar berani, belajar percaya diri, dan belajar bahwa setiap langkah yang mereka tempuh hari ini dapat menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh esok hari.
Dan bagi Umairah, malam itu mungkin hanya sebuah penampilan.
Namun, bagi seorang anak yang sedang belajar menemukan keberaniannya, satu langkah kecil di atas panggung bisa menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih besar.





