BONE, Saparakyat.com — Ada kemenangan yang cukup dirayakan dengan sorak-sorai. Tetapi ada pula kemenangan yang lahir dari perjalanan panjang, dari kaki yang lelah, perjalanan yang jauh, doa yang tak putus, dan kerinduan yang bertahun-tahun disimpan dalam diam.
Bukan hanya tentang 90 menit pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang perjalanan, pengorbanan, doa, dan kesetiaan orang-orang yang tak pernah berhenti berdiri di belakang sebuah tim.
Begitulah kisah Bone Beramal FC dalam perjalanan menjuarai Turnamen Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026. Senin, 21 September 2026, Stadion Gelora BJ Habibie, Kota Parepare, menjadi saksi ketika penantian panjang masyarakat Kabupaten Bone akhirnya menemukan jawabannya.
Bone Beramal FC memastikan diri sebagai juara setelah menaklukkan Sidrap melalui drama adu penalti dengan skor 5-4, setelah kedua kesebelasan bermain imbang 1-1 selama waktu normal 90 menit. Kemenangan itu bukan sekadar angka di papan skor.
Bagi masyarakat Bone, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan yang telah lama dinantikan. Perjalanan Bone Beramal FC menuju tangga juara dimulai dari zona timur. Lapangan Sepak Bola Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, menjadi salah satu panggung awal perjuangan pasukan Bumi Arung Palakka. Dari sana, langkah mereka terus bergerak. Memasuki babak delapan besar, Bone Beramal FC harus melanjutkan perjuangan di Kabupaten Gowa.
Setelah itu, semifinal dan partai puncak membawa mereka ke Kota Parepare. Jarak boleh semakin jauh, tetapi dukungan suporter justru semakin dekat. Di setiap pertandingan, selalu ada mereka yang datang membawa semangat, doa, dan harapan.
Di antara para pendukung setia itu terdapat Rusli, yang akrab disapa Om Rusli, warga asal Bukaka. Ada pula Yeyen, warga Ponceng, Watampone, yang sehari-hari bekerja sebagai petugas Damkar. Bagi mereka, mendukung Bone Beramal FC bukan sekadar datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Ada rasa bangga sebagai bagian dari masyarakat Bone yang ingin melihat tim kebanggaannya berjuang hingga akhir.
Yeyen bahkan memilih datang lebih awal. Ia tak ingin terlambat sedikit pun untuk menyaksikan Bone Beramal FC berlaga.
“Saya tidak mau terlambat. Sebisa mungkin datang lebih awal supaya bisa menyaksikan perjuangan Bone Beramal FC dari awal pertandingan,” ujar Yeyen.
Kini, perjalanan panjang itu terbayar lunas dengan sebuah trofi.
Baginya, setiap detik pertandingan memiliki arti. Setiap serangan, setiap penyelamatan, hingga setiap peluang menjadi bagian dari perjalanan yang ingin ia saksikan dengan mata kepala sendiri.
Dukungan seperti itulah yang terus mengiringi Bone Beramal FC sejak pertandingan awal hingga partai final.
Ketika pertandingan puncak menghadapi Sidrap berlangsung, perjuangan Bone Beramal FC tidak berjalan mudah. Setelah bermain imbang 1-1 selama 90 menit, penentuan juara harus dilakukan melalui drama adu penalti.
Ketegangan memuncak ketika para algojo berdiri di titik putih. Di saat itulah kiper Bone Beramal FC, Nasrullah alias Ucok, tampil menjadi salah satu penentu. Ia berhasil menepis salah satu tendangan pemain Sidrap. Sementara para penendang Bone Beramal FC mampu menjalankan tugasnya dengan sempurna. Skor akhir 5-4 memastikan gelar juara menjadi milik Bone Beramal FC.
Stadion Gelora BJ Habibie pun bergemuruh. Suara suporter pecah menyambut kemenangan pasukan Bumi Arung Palakka. Ada yang berteriak, ada yang berpelukan, dan ada pula yang tak mampu menyembunyikan air mata kebahagiaan. Sebab, bagi sebagian suporter, kemenangan itu bukan hanya tentang sebuah pertandingan sepak bola. Ada kerinduan yang selama ini tersimpan. Ada perjalanan panjang yang telah dilalui. Ada rasa lelah yang akhirnya terbayar dengan sebuah trofi.
Kegembiraan tersebut juga dirasakan masyarakat Bone yang berada di perantauan. Meski tidak berada langsung di Stadion Gelora BJ Habibie, mereka tetap mengikuti perjuangan Bone Beramal FC melalui layar telepon genggam. Ucapan selamat dan rasa bangga mengalir melalui media sosial, baik Facebook maupun TikTok.
Anak-anak rantau turut menyampaikan kebahagiaan mereka atas keberhasilan tim yang membawa nama daerahnya menjadi juara. Bagi mereka, jarak bukan penghalang untuk ikut merasakan kemenangan. Di balik trofi Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026, terdapat cerita tentang kesetiaan para pemain dan dukungan para suporter yang terus berjalan beriringan.
Dari Mappesangka, menuju Gowa, kemudian berakhir di Parepare, perjalanan itu akhirnya menemukan titik puncaknya. Bone Beramal FC pulang membawa gelar juara, sementara para pendukung membawa pulang cerita yang akan terus dikenang.
Om Rusli, Yeyen, dan para suporter lainnya mungkin bukan nama yang tercatat di papan skor. Namun, suara mereka dari pinggir lapangan, perjalanan mereka dari satu tempat ke tempat lainnya, serta doa yang mereka panjatkan menjadi bagian dari cerita perjalanan Bone Beramal FC.
Malam itu, ketika trofi diangkat tinggi-tinggi, yang dirayakan bukan hanya kemenangan sebelas pemain di atas lapangan. Ada kebanggaan masyarakat Bone yang ikut terangkat bersama trofi tersebut. Ada kebahagiaan anak-anak rantau yang mengalir melalui media sosial. Ada pula air mata para suporter yang akhirnya menyaksikan kerinduan mereka terbayar.
Bone Beramal FC menjadi juara Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026. Sebuah gelar yang lahir dari perjuangan di lapangan dan dukungan yang tidak pernah padam dari orang-orang yang percaya bahwa suatu hari nanti, nama Bone akan berdiri di puncak. Dan hari itu akhirnya tiba.





