Di Bawah Teduh Pepohonan SDN 113 Lebbae, 67 Anak Menorehkan Warna dan Mimpi

BONE, SAPARAKYAT.COM – Ahad pagi, 2 Agustus 2026, halaman SDN 113 Lebbae jalan Poros Bone-Soppeng, seakan berubah menjadi ruang kecil tempat warna-warna menemukan rumahnya.

Sebanyak 67 anak dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) sederajat datang membawa pensil warna, krayon juga semangat yang barangkali lebih besar daripada usia mereka.

Mereka datang bukan hanya dari Desa Lebbae. Ada pula peserta dari Desa Welado, Desa Timurung, Desa Pacciro dan Desa Manciri. Mereka duduk berdampingan, menundukkan kepala di atas lembaran kertas, lalu membiarkan jemari kecil mereka bercerita melalui garis dan warna.

Di tangan mereka, sebuah gambar bukan sekadar gambar. Ia adalah imajinasi yang sedang belajar tumbuh.

Kegiatan Lomba Mewarnai dan Menggambar yang digelar Karang Taruna Walasuji Desa Lebbae, Kecamatan Ajangale, tersebut menjadi bagian dari semarak menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di tengah riuh suara anak-anak dan tatapan orang tua yang penuh harap, perlombaan berlangsung dengan suasana hangat. Semua dipertemukan oleh satu hal sederhana: kegembiraan untuk berkarya.

Baca Juga:  Semarak HUT RI ke-81, Dua Kali Gelar Turnamen Secara Mandiri, Camat Ajangale Apresiasi Karang Taruna Walasuji

Ketua Karang Taruna Walasuji Desa Lebbae, Supardi, mengatakan lomba tersebut dihadirkan sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengenal dunia kreativitas sejak dini.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi wadah positif bagi generasi muda,” harap Supardi.

Untuk menilai karya-karya peserta, panitia menghadirkan Kamistang, S.Pd.,Gr., dari UPT SMP Negeri 2 Ajangale, yang merupakan Guru Seni Budaya.

Dengan latar belakang sebagai pendidik di bidang seni budaya, Kamistang melakukan penilaian terhadap karya peserta dengan memperhatikan unsur kreativitas, komposisi warna, kerapian serta kesesuaian karya dengan kategori perlombaan.

Satu per satu karya diperhatikan dengan teliti. Setiap goresan memiliki cerita, setiap warna membawa imajinasi, hingga akhirnya nama-nama terbaik lahir dari lembaran-lembaran penuh warna.

Baca Juga:  Dari Masjid Nur Rosydin Lallongka, Pesan Pengorbanan dan Bakti Orang Tua Menggema di Hari Raya Kurban

Untuk kategori menggambar tingkat SD sederajat, Juara 1 diraih peserta dari SDN 108 Pompanua.

Sementara pada kategori mewarnai tingkat SD sederajat, Juara 1 diraih peserta dari SDN 13/77 Timurung.

Sedangkan untuk kategori mewarnai tingkat TK, Juara 1 diraih oleh RA Auladul As’adiyah, salah satu peserta yang berhak membawa pulang trofi dan hadiah.

Trofi-trofi itu mungkin hanya benda sederhana. Namun bagi anak-anak yang menerimanya, ia bisa menjadi kenangan panjang—tentang sebuah pagi, tentang keberanian mencoba, dan tentang pertama kalinya sebuah karya mendapat penghargaan.

Di balik suksesnya kegiatan tersebut, Supardi menyebut ada banyak tangan yang ikut membantu. Ada dukungan pemerintah desa Lebbae, Ketua Kelompok Kepala Sekolah (K3S), para kepala sekolah, guru, orang tua, panitia hingga masyarakat yang bersama-sama membuat kegiatan itu berjalan sebagaimana mestinya.

“Kegiatan ini dapat terlaksana dan sukses berkat dukungan serta kerja sama dari Pemerintah Desa Lebbae, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Ajangale, serta Kepala Sekolah SDN 113 Lebbae. Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepada Karang Taruna Walasuji,” ungkap Supardi.

Baca Juga:  Pemerintah Kelurahan Jeppe'e Gelar Agenda Tahunan, Yaitu:

Baginya, kegiatan tersebut bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, ada harapan agar anak-anak memiliki ruang untuk bertemu, bermain, berkreasi dan belajar menghargai karya satu sama lain.

Ada yang pulang membawa pengalaman. Ada yang membawa keberanian. Ada pula yang membawa keyakinan kecil bahwa ia juga mampu menciptakan sesuatu yang indah.

Dan mungkin, dari 67 anak yang pagi itu duduk mewarnai di SDN 113 Lebbae, kelak akan tumbuh satu atau dua nama yang menghabiskan hidupnya untuk seni.

Semuanya bisa saja bermula dari selembar kertas dan warna-warni sederhana di sebuah pagi di Lebbae.

Pos terkait