BONE, SAPARAKYAT. COM – Riuh rendah bola mania Kabupaten Bone akhirnya mencapai titik didih. Turnamen Beramal Cup 2026 “Rise of Champions” yang digelar sejak 4 Mei, kini bersiap menutup tirai dengan satu laga penentuan yang dipastikan tak sekadar pertandingan, ini perang harga diri antar kecamatan.
Panggungnya: Stadion Lapatau Matanna Tikka.
Laga final dijadwalkan pada Minggu sore, 17 Mei 2026.
Mempertemukan Kecamatan Palakka vs Kecamatan Lamuru.
Dua nama besar. Dua kekuatan brutal.
Palakka, yang disokong Selpi Tani, datang bukan untuk bermain cantik, mereka datang untuk menggilas, merobek pertahanan, dan meninggalkan luka. Skuadnya diisi pemain berkelas, dari pemain yang sudah berpengalaman bahkan dari Liga 2, siap menunjukkan kualitas tanpa kompromi.
Di sisi lain, Lamuru di bawah panji Paddengeng adalah simbol keganasan tanpa batas. Diisi para pemain yang sudah melintang diberbagai daerah bahkan diisi pemain eks liga satu, Mereka bermain tanpa rem, cepat, keras, dan penuh tekanan. Bagi mereka, pertandingan bukan sekadar permainan, tapi pertarungan yang harus dimenangkan dengan cara apa pun.
Ini bukan final biasa. Ini benturan dua raksasa yang sama-sama lapar gelar dan siap mengorbankan segalanya di atas lapangan.
Stadion dengan kapasitas sekitar 15 ribu penonton itu diprediksi tak akan mampu menahan gelombang manusia yang datang. Ribuan orang diyakini akan memadati stadion jauh sebelum kick-off, menciptakan lautan manusia yang bergemuruh tanpa henti.
Sorak-sorai akan berubah menjadi tekanan, teriakan menjadi intimidasi dan bagi pemain yang tak siap mental, itu bisa menjadi mimpi buruk sejak menit pertama.
Keputusan Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., yang menggratiskan tiket final menjadi bahan bakar yang membuat situasi semakin panas. Tak ada alasan untuk absen, Lapatau akan penuh, sesak, dan mendidih.
Panitia pun telah memberi peringatan keras: penonton diminta datang lebih awal. Jika tribun barat telah penuh, akses akan langsung ditutup dan penonton dialihkan ke tribun timur. Tak ada ruang untuk keterlambatan–yang lambat, akan tertinggal bahkan sebelum laga dimulai.
Final ini juga akan disaksikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, S.T., S.E, yang sekaligus akan menutup resmi turnamen Beramal Cup 2026. Namun kehadiran pejabat tak akan mampu meredam panasnya tensi di lapangan.
Saat peluit pertama dibunyikan, semuanya berubah, tak ada lagi nama besar, tak ada lagi status.
Yang ada hanya benturan, tekanan, dan pertarungan tanpa ampun, setiap tekel adalah benturan harga diri.
Setiap duel adalah pertaruhan nyali.
Setiap gol adalah luka bagi yang lain.
Dan ketika peluit akhir menggema di langit Lapatau, satu kenyataan akan berdiri tegak tanpa bisa dibantah.
Siapapun yang tumbang, akan pulang dengan luka.
Siapapun yang menang, akan dikenang sebagai penguasa.





