BONE, SAPARAKYAT.COM – Di balik tingginya tensi pertandingan Beramal Cup 2026 antar kecamatan se-Kabupaten Bone yang digelar di Stadion Lapatau Watampone geliat ekonomi masyarakat kecil ikut “menyala”. Bukan hanya tiket masuk yang laris manis, para pelaku UMKM di sekitar stadion juga merasakan lonjakan omzet yang signifikan.
Sejak pukul 13.00 wita, para pedagang sudah mulai memadati area stadion. Mereka datang lebih awal dengan harapan sederhana: dagangan habis, anak-anak bisa makan dengan layak, dan ada sedikit yang bisa ditabung untuk masa depan. Di bawah terik matahari hingga riuh sorak penonton mereka tetap bertahan, menjajakan harapan di setiap langkah kaki yang melintas.
Tak hanya menunggu pembeli, para pedagang juga aktif menghampiri penonton satu per satu sambil menawarkan berbagai dagangan, mulai dari minuman dingin, makanan ringan, hingga jajanan tradisional. Senyum ramah dan sapaan hangat menjadi cara mereka bertahan di tengah kerasnya persaingan dan ketidakpastian rezeki.
Setiap harinya, para pedagang mampu meraup penghasilan rata-rata hingga Rp1,3 juta. Bahkan pada laga panas antara Kecamatan Tonra melawan Kecamatan Kahu, omzet pedagang meningkat lebih tinggi dari biasanya.
Rosmi, salah satu pedagang asal Kelurahan Apala, mengungkapkan bahwa dirinya mencatat pendapatan tertinggi sepanjang turnamen pada pertandingan tersebut.
“Waktu Tonra lawan Kahu, saya dapat sampai Rp1,6 juta. Itu yang paling banyak sampai babak 8 besar ini,” kata Rosmi kepada awak media, Jumat sore, 15 Mei.
Namun di balik angka-angka itu, tersimpan perjuangan yang tak selalu terlihat. Ada tenaga yang terkuras, ada waktu bersama keluarga yang terlewat, dan ada doa-doa yang diam-diam dipanjatkan agar dagangan hari itu tidak tersisa.
Menurutnya, antusiasme penonton yang memadati stadion menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kecil. Ramainya pengunjung membuat dagangan seperti makanan, minuman, hingga jajanan cepat habis terjual, seolah menjadi jawaban atas kerja keras yang mereka lakukan sejak siang hari.
Rosmi juga optimistis bahwa pada laga semifinal hingga final nanti, jumlah penonton akan semakin meningkat, sehingga peluang meraih keuntungan pun makin besar.
“Bukan tidak mungkin di semifinal dan final nanti pembeli makin banyak, jadi dagangan juga makin laris,” tambahnya.
Para pedagang pun berharap agar event seperti Beramal Cup bisa terus digelar secara rutin setiap tahun. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar turnamen sepak bola. Namun bagi mereka, ini adalah sumber penghidupan, tempat menggantungkan harapan, dan jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kami sangat berharap pemerintah dan panitia bisa adakan turnamen ini tiap tahun. Kalau ada event besar seperti ini, kami pedagang sangat terbantu, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun biaya sekolah anak,” harapnya dengan penuh haru.
Beramal Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang menang di lapangan, tetapi juga tentang siapa yang tetap bertahan di luar garis pertandingan. Di antara gemuruh sorak penonton, ada cerita-cerita kecil tentang perjuangan, tentang harapan, dan tentang kehidupan yang terus berjalan, pelan, namun pasti.





