BONE, SAPARAKYAT.COM – Di balik khidmatnya prosesi peresmian Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Passippo, Jum’at pagi 26 Juni 2026, perhatian turut tertuju pada sosok muda yang tampil anggun mengenakan busana adat Bugis Bone. Ia adalah Zahratunnisaa, lulusan kelas XIII SMAN 3 Bone yang dipercaya mendampingi Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., dalam prosesi seremonial membawa baki dan gunting peresmian.
Lahir di Watampone pada 26 Juli 2008 dan berdomisili di Jalan Lapawawoi Karaeng Sigeri, LR. Pemuda, Kelurahan Masumpu, Kecamatan Tanete Riattang, Zahratunnisaa baru saja menuntaskan pendidikan di SMAN 3 Bone dan berencana melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi bukti bahwa generasi muda Bone mampu tampil sebagai representasi daerah dalam kegiatan-kegiatan resmi pemerintahan. Dalam dunia keprotokolan, sosok seperti Zahratunnisaa dikenal sebagai pranatacara atau duta daerah, figur yang tidak hanya mendampingi jalannya prosesi seremonial, tetapi juga menjadi wajah budaya, etika, dan keramahan Kabupaten Bone.
Pada kesempatan tersebut, Zahratunnisaa tampil memesona mengenakan Waju Tokko atau Baju Bodo berwarna fuchsia (merah muda keunguan) yang merupakan busana tradisional perempuan Bugis Bone. Penampilannya semakin elegan dengan balutan sarung sutra Bugis (Lipa’ Sabbe) bermotif kotak-kotak bernuansa hijau, kuning, biru, ungu, dan jingga. Aksesori berupa kalung panjang berwarna emas, bros bundar berwarna perak di bagian dada, serta hiasan bunga merah dan hijau pada sanggul rambut melengkapi penampilannya. Riasan wajah bernuansa natural semakin mempertegas kesan anggun, santun, dan berwibawa sebagai representasi perempuan Bugis Bone.
“Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa dipercaya mendampingi Bapak Bupati Bone pada momen penting ini. Saya merasa bangga dapat mengenakan pakaian adat Bugis Bone sebagai wujud kecintaan terhadap budaya daerah. Semoga kepercayaan ini menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berprestasi sekaligus melestarikan budaya Bone,” ujar Zahratunnisaa.
Peresmian IPLT Passippo dipimpin langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Bone Hj. Andi Tenriawaru, S.P., M.M., serta Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Kabupaten Bone H. Askar, S.T., M.Si. Kegiatan berlangsung di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Passippo, Kelurahan Palakka, Kabupaten Bone.
Pembangunan fasilitas pengolahan lumpur tinja tersebut menelan anggaran sebesar Rp8 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat.
Kepala Dinas BMCKTR Bone, H. Askar, menjelaskan bahwa IPLT dibangun di kawasan TPA Passippo yang memiliki luas sekitar 4,9 hektare sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan sistem pengelolaan sanitasi yang lebih baik dan berkelanjutan.
Sementara itu, Bupati Bone menegaskan bahwa pembangunan IPLT memiliki manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan. Selain mengurangi potensi pencemaran akibat pengelolaan limbah domestik yang tidak terkontrol, fasilitas tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pemanfaatan hasil olahan lumpur menjadi pupuk organik.
“Pembangunan IPLT ini dapat menekan pencemaran lingkungan, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta menghasilkan pupuk organik yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian dan hortikultura,” Kata Andi Asman Sulaiman.
Bupati juga meminta agar dukungan operasional berupa kendaraan pengangkut lumpur tinja atau mobil septic tank segera disiapkan sehingga fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Saya tidak mau tempat ini mangkrak. Mobil operasionalnya harus segera dianggarkan dan dipersiapkan dengan baik agar layanan kepada masyarakat bisa berjalan,” tegasnya.
Selain menjadi tonggak peningkatan sistem sanitasi di Kabupaten Bone, peresmian IPLT Passippo juga menghadirkan pesan bahwa pelestarian budaya tetap mendapat tempat dalam setiap agenda pembangunan.
Sosok Zahratunnisaa yang tampil anggun sebagai pranatacara sekaligus duta daerah menjadi simbol bahwa generasi muda Bone mampu mengemban amanah, menjaga nilai-nilai budaya, dan memperkenalkan identitas Bugis Bone di setiap kegiatan resmi pemerintahan.





